Bab 4
PENERAPAN PEWARNAAN KEDALAM DIAGRAM
4.1
Contoh Kasus
Warna
merupakan sebuah nama yang muncul atas segala aktivitas pada retina mata.
Selain itu, warna adalah hal penting bagi berbagai macam makanan. Warna juga
menunjukkan indikasi adanya perubahan kimia dalam makanan seperti misalnya
browning karamelisasi.
Klasifikasi
warna paling penting adalah sistem CIE(Commision International de l’eclairage).
Sistem lain yang digunakan untuk mendiskripsikan warna makanan antara lain
system Munsell, Hunter, Lovibond (de Man,1999).
Sistem
Hunter merupakan salah satu system warna yang telah luas digunakan untuk
kolorimetri makanan. Dalam system Hunter warna dibedakan menjadi 3 dimensi
warna. Simbol a untuk dimensi kemerahan dan kehijauan.Simbol b untuk dimensi
kekuningan dan kebiruan. Dimensi warna yang ketiga adalah L (Lightness) atau
kecerahan. Nilai CIE dapat dikonversi menjadi nilai warna dalam system Hunter
menjadi L,a,b. Begitu pula sebaliknya nilai L,a,b dapat dikonversi menjadi
nilai CIE X%, Y, Z% (de man, 1999).
Warna
dapat diukur secara modern dengan sebuah alat, yaitu color reader seri CR – 10.
Instrumen ini terdiri atas ujung reseptor (A),sebuah layar dan 4 buah tombol.
3tombol adalah target, lab, Lch yang terletak dibawah layar pada sisi smaping
alat. 1 tombol terletak pada sisi atas alat yang berfungsi sebagai tombol start
saat penembakan sampel (de Man,1999).
Panjang
gelombang warna yang bisa ditangkap mata berkisar antara 380 – 780 nanometer
dan panjang gelombang ini menentukan sifat warna. Warna juga berarti interpretasi
otak dari campuran warna primer, yaitu merah, hijau dan biru dengan komposisi
tertentu (Anonim, 2009).
Color
reader adalah alat pengukur warna yang didesain dengan tiga reseptor sehingga
mampu membedakan warna akurat antara terang dan gelap. Pengukuran warna ini
menggunakan color reader dengan seri CR-10, dengan ukuran dan lebar sinar
360g/12.7oz, gampang digunakan karena hanya menggunakan satu tangan, dan
perbedaan warna dalam bentuk delta (L,a,b), delta (E,a,b) atau delta (L,c,h),
dapat beriluminasi 8/d. Menggunakan stander CIE D65, sumber energi berupa 4
batrai AA atau adapter AC-A12. Dapat mendeteksi dalam 10 detik dengan
temperature operasi 0-40°C. Ukrannya 59 x 158 x 85 mm. Beratnya 360 gr tanpa
batrai.Casing standar CR-A68, ap pelindung CR-A72.(Maryanto, dkk, 2004)
4.1.1
Interval
Interval
yang dimaksud disini adalah jarak antara warna yang satu ke warna yang lain
dalam proses perubahan warna. Berikut tabel interval pada perubahan warna yang
dilihat dalam RGB, CMYK, dan HSV.
4.1.2
Line Chart
Line
chart adalah grafik yang paling sederhana yang digambarkan sebagai garis yang
menghubungkan harga-harga penutupan. Tampilan dari Line Chart sangat sederhana
karena hanya berbentuk garis-garis saja. Misalnya disini akan menampilkan line
chart yang dimana terdapat 2 tabel disini yaitu derajat dan warnanya.
Disini
bisa mendapatkan data diatas dari pernyataan dibawah ini.
Pengukuran
warna secara visual atau kualitatif sangat sulit dilakukan karena indera
penglihatan manusia sulit untuk membedakan perbedaan warna yang sedikit.
Pengukuran warna produk pertanian dapat dilakukan dengan menggunakan alat yang
bernama Colour Reader. Alat ini dapat mengukur warna dengan hasil berupa angka
dan dibagi menjadi Lightness, Chroma dan Hue. Hue merupakan karakteristik warna
berdasarkan cahaya yang dipantulkan oleh objek, dalam warna dilihat dalam
ukurannya mengikuti tingkatan 0-359. Sebagai contoh, pada tingkat 0 adalah
warna merah, pada tingkat 60 adalah warna kuning, untuk warna hijau pada
tingkatan 120, sedangkan pada tingkatan 180 adalah warna cyan. Untuk tingkat
240 merupakan warna biru, serta tingkat 300 adalah warna magenta.
Berikut
contoh dari Line Chart yang kami buat dari Microsoft Excel.
Bisa
dilihat disini dari merah ke magenta grafiknya yang didapat dari data diatas
berbentuk garis diagonal yang dimana terdapat selisih interval sebanyak 60
derajatnya yang bisa dilihat semakin naik keatas lebih dari 0 maka warnanya
akan semakin berubah.
4.1.3
Pie Chart
Pie
Chart adalah chart yang berbentuk bundar menyerupai bentuk kue pie. Chart jenis
ini sangat bagus digunakan untuk menampilkan grafik data presentasi dari sebuah
kegiatan perubahan warna dan akan menemukan presentase dari hasil perubahan
warna tersebut.
Berikut
ini kami akan memaparkan pembuatan pie chart dengan bahasa pemrograman html
menggunakan notepad++. Kami akan membuat chart yang nantinya bisa kita
integrasikan ke dalam web aplikasi kami dengan menggunakan canvas yang
merupakan elemen dari html5 dan javascript. Library yang akan kita gunakan
dalam pembuatan chart ini adalah RGraph.
RGraph
merupakan sebuah library javascript yang memanfaatkan element canvas html5 yang
mampu membuat chart dengan cara yang sangat mudah. Visualisasi chart yang
didukung oleh library RGraph ini lebih dari 20 jenis visualisasi yang berbeda.
RGraph juga bisa memanfaatkan JSON data sebagai sumber data dalam pembuatan
chart secara dinamis dan on the fly. Buat kami RGraph menawarkan kemudahan
tersendiri dalam melengkapi web aplikasi yang dibuat dari sisi pembuatan layer
presentasi yang berupa chart. Langsung saja kita mulai cara mudah membuat chart
dalam web aplikasi kita ini. Kita akan melakukan percobaan ini dengan membuat
sebuah web aplikasi html sederhana saja.
Sebagai
langkah pertama, silahkan download terlebih dahulu library Rgraph. Buatlah
sebuah folder web aplikasi html dan didalamnya terdapat folder css, js, dan
datasource. Kemudian ekstrak file Rgraph.zip yang sudah di download tadi. Copy
semua file yang ada dalam folder css hasil ekstrak dan letakkan dalam folder
css yang kita buat. Kemudian copy seluruh file yang ada dalam folder libraries
hasil ekstrak tadi dan letakkan dalam folder js yang sudah kita buat.
Kita
akan membuat sebuah Pie Chart sederhana atau basic pie chart dengan menggunakan
library RGraph yang sudah kita ekstrak tadi. Buatlah sebuah file html dengan
nama basic-pie.html dan letakkan dalam folder web aplikasi html kita sejajar
dengan folder js. Dan berikut ini isi file basic-pie.html tersebut.
<!DOCTYPE
html>
<html>
<head>
<title></title>
<script
type="text/javascript"
src="js/jquery.min.js"></script>
<script
type="text/javascript"
src="js/RGraph.common.core.js"></script>
<script
type="text/javascript"
src="js/RGraph.common.dynamic.js"></script>
<script
type="text/javascript" src="js/RGraph.common.tooltips.js"></script>
<script
type="text/javascript"
src="js/RGraph.pie.js"></script>
<script
type="text/javascript">
//creating
graph
window.onload
= function () {
var
pieGraph = new RGraph.Pie("cvsGraphBook", [30, 60, 120, 180, 240])
.Set("labels",
["red", "grey", "green", "blue",
"magenta"])
.Set("tooltips",
["red [30]", "grey [60]", "green [120]",
"blue [180]", "magenta [240]"])
.Draw();
}
</script>
</head>
<body>
<canvas
id="cvsGraphBook" width="350" height="250">[No
canvas support]</canvas>
</body>
</html>
Kemudian
bukalah file tersebut pada browser anda dan akan menjadi seperti gambar berikut
ini:
Mari
kita coba pahami isi dari file basic-pie.html tersebut. Perhatikan tag body
pada file basic-pie tersebut:
<canvas
id="cvsGraphBook" width="350" height="250">[No
canvas support]</canvas>
Disana
kita membuat sebuah elemen canvas yang dimiliki oleh html5 dengan lebar 350 dan
tinggi 250, kemudian di dalam tag canvas tersebut kita lihat sebuah teks “No
canvas support”, teks ini akan tampil jika browser yang kita gunakan tidak
mendukung html5. Kemudian perhatikan baris-baris berikut yang ada pada section
ini:
<script
type="text/javascript"
src="js/jquery.min.js"></script>
<script
type="text/javascript" src="js/RGraph.common.core.js"></script>
<script
type="text/javascript"
src="js/RGraph.common.dynamic.js"></script>
<script
type="text/javascript"
src="js/RGraph.common.tooltips.js"></script>
<script
type="text/javascript" src="js/RGraph.pie.js"></script>
Baris-baris
diatas adalah baris-baris dimana kita meng-include library-library RGraph yang
kita butuhkan. Oleh karena kita hendak membuat Pie maka kita meng-include file
RGraph.pie.js. Kemudian perhatikan kembali baris-baris berikut ini:
<script
type="text/javascript">
//creating
graph
window.onload
= function () {
var
pieGraph = new RGraph.Pie("cvsGraphBook", [30, 60, 120, 180, 240])
.Set("labels",
["red", "grey", "green", "blue",
"magenta"])
.Set("tooltips",
["red [30]", "grey [60]", "green [120]",
"blue [180]", "magenta [240]"])
.Draw();
}
</script>
Ya,
disanalah baris-baris utama kita dalam membuat chart dengan library RGraph.
Pada baris tersebut terlihat object RGraph.Pie dibuat berdasarkan parameter id
dan data. Teks “cvsGraphBook” dalam konstruktor tersebut adalah id dari canvas
tempat kita akan meletakkan hasil dari chart yang akan dibuat. Sementara
parameter data, kita buat merupakan array dari angka-angka 30,60,120,180 dan
240. Kemudian untuk membuat label yang bisa mewakili deskripsi dari angka-angka
tersebut kita set pada baris:
.Set("labels",
["red", "grey", "green", "blue",
"magenta"])
Label
tersebut juga merupakan array tapi terdiri dari jenis-jenis warna. Yang harus
dipahami adalah urutan array data dan urutan array label, harus simetris jika
kita ingin menempatkan data yang benar, maksudnya secara tabular data maka
seharusnya simetris. Dan kemudian baris selanjutnya tertulis seperti ini:
.Set("tooltips",
["red [30]", "grey [60]", "green [120]",
"blue [180]", "magenta [240]"])
Baris
ini adalah baris dimana kita menge-set tooltips untuk chart yang kita buat.
Sama halnya dengan label, tooltips ini juga mesti simetris dengan parameter
data yang kita definisikan pada instansiasi object RGraph.Pie diatas. Tooltips
ini berguna jika salah satu bagian pada pie chart tersebut di-click maka akan
tampil tooltips sesuai dengan apa yang kita buat. Sampai disini kita sudah
selesai membuat basic-pie-chart.
4.1.4
Organization Chart
Setelah
menerapkan pewarnaan pada line chart dan pie chart, selanjutnya kami terapkan
pada organization chart. Organization chart adalah diagram yang memperlihatkan
adanya saling keterkaitan berbagai posisi pada suatu organisasi. Jika kami
sesuaikan dengan materi yang sedang kami bahas, disini masing-masing warna
saling berkaitan satu sama lain. Seperti contoh diatas, kami membuat sebuah
diagram organisasi untuk organisasi warna pelangi.
Disini
kami menurunkan menjadi beberapa bagian warna yang tedapat pada warna pelangi,
yaitu warna merah, kuning, hijau, cyan, biru dan magenta. Untuk masing-masing
warna, kami turunkan lagi dimana di setap turunan ini ada kaitannya dengan
warna selanjutnya. Misalnya, turunan merah terdapat warna merah oranye, oranye
tua, oranye serta warna-warna lainnya yang mendekati ke warna kuning. Ketiga
turunan dapat mendekati ke warna kuning, tergantung besar kecilnya nilai yang
kami input pada derajat RGB. Untuk warna merah kami memiliki nilai derajat
RGB(255,0,0) lalu kami tingkatkan nilai derajatnya menjadi RGB(255,59,0)
sehingga warna berubah menjadi merah-oranye, lalu untuk warna oranye tua kami
tingkatkan kembali nilai derajat menjadi RGB(255,100,0) dan warna oranye
ditingkatkan kembali menjadi RGB(255,165,0). Jika kami tingkatkan
terus-menerus, maka semakin lama warna akan berubah menjadi lebih muda dari
yang sebelumnya dan akan mndekati ke warna kuning. Lalu untuk warna
selanjutnya, langkah-langkah yang dilakukan sama seperti warna merah tadi.
Karena kami membuat organisasi chart yang membahas tentang organsasi warna
pelangi, maka derajat nilai RGB yang kami input adalah untuk warna pelangi.




Komentar
Posting Komentar